Perbedaan Darah Tinggi Dan Darah Rendah

Perbedaan Darah Tinggi Dan Darah Rendah

Saat kamu mengalami pusing, tubuh yang lemas, serta kulit menjadi pucat, hal ini dapat menjadi gejala awal dari kurang darah. Namun, hal ini juga dapat terjadi pada darah rendah. Kedua penyakit ini kerap dianggap sama, padahal kenyataannya sangat berbeda satu sama lain. Selain itu, penyebab dan cara penanganannya pun juga berbeda satu sama lain.

Kurang darah atau anemia, merupakan kondisi yang terjadi karena tubuh kekurangan hemoglobin. Sedangkan darah rendah alias hipotemia, adalah masalah yang terjadi karena tekanan darah di dalam arteri di bawah batas normal. Seseorang dikatakan memiliki darah rendah jika hasil pengukuran tekanan darahnya menunjukkan angka di bawah 90/60 mmHg. Untuk mengetahui perbedaannya, baca ulasan beriku tini!

Beda Penyebab Kurang Darah dan Darah Rendah

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, darah rendah merupakan kondisi yang terjadi karena tekanan darah di dalam arteri lebih rendah dibanding angka normal. Pada saat darah mengalir melalui arteri, darah memberikan tekanan pada dinding arteri. Tekanan itulah yang menjadi tolok ukur kekuatan aliran darah atau disebut dengan tekanan darah. Beberapa dampak buruk dapat dirasakan saat hal ini terjadi.

Tekanan darah yang terlalu rendah bisa menyebabkan terhambatnya jumlah darah yang mengalir ke otak dan organ vital lain, seperti ginjal. Kondisi ini kemudian mengakibatkan muncul gejala, seperti kepala terasa ringan dan pusing. Tubuh juga akan terasa tidak stabil atau goyah, bahkan kehilangan kesadaran. Ada beberapa kondisi yang bisa menjadi penyebab hipotensi, misalnya kekurangan cairan tubuh, kehamilan, perdarahan, diabetes, hingga gangguan hormon tiroid.

Sedangkan anemia, adalah gangguan yang terjadi ketika jumlah sel darah merah yang sehat yang berada di dalam tubuh terlalu rendah. Sel darah merah mempunyai fungsi untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Akibat jumlah sel darah merah yang rendah, jumlah oksigen yang menyebar di dalam tubuh lebih rendah dari yang seharusnya. Penurunan oksigen dapat menimbulkan dampak buruk pada jaringan dan organ vital.

Anemia diukur berdasarkan jumlah hemoglobin, yaitu protein di dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Gangguan ini lebih rentan terjadi pada wanita dibandingkan pria. Selain itu, gangguan ini juga rentan terjadi pada seseorang yang mengalami beberapa penyakit kronis, seperti kanker.

Bagaimana Langkah Pengobatan Kurang Darah dan Darah Rendah?

Pengobatan untuk tekanan darah rendah bisa berbeda-beda tergantung dari penyebabnya. Namun secara umum, gangguan ini dapat ditangani dengan mengonsumsi lebih banyak air putih, konsumsi makan sehat, serta rutin berolahraga. Jika dibutuhkan, pengidap penyakit ini mungkin harus mengonsumsi obat-obatan tertentu atau mendapat tindakan medis.

Sementara anemia atau kurang darah terjadi karena tubuh kekurangan hemoglobin. Kebanyakan kondisi ini terjadi karena kurangnya asupan zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Selain itu, anemia juga bisa disebabkan oleh perdarahan, kehamilan, kegagalan produksi sel darah, hingga penyakit ginjal kronis.

Kedua penyakit ini sering dianggap sama, karena gejala yang muncul memang mirip. Pengidapnya sama-sama merasakan kelemahan, pusing, dan tubuh yang melayang. Terkadang penyebabnya pun bisa sama. Fakta lainnya adalah seseorang yang mengidap anemia karena perdarahan bisa juga mengalami hipotensi.

Selain itu, beberapa kondisi yang dapat mengakibatkan tekanan darah rendah atau hipotensi adalah kehilangan cairan atau darah. Contohnya adalah muntah-muntah hebat, diare, infeksi berat, gangguan pada jantung, hingga perdarahan, baik yang terjadi melalui saluran cerna atas maupun saluran bawah secara tiba-tiba, serta perdarahan pada alat kelamin wanita.

Baik gangguan darah rendah maupun kurang darah perlu mendapatkan perhatian yang tepat dan jangan pernah dianggap sepele. Jika kamu didiagnosis salah satu penyakit tersebut, ada baiknya rutin memantau kondisi tubuh saat merasakan gejala yang mungkin timbul. Jangan tunda untuk melakukan diagnosis jika gejala yang telah disebutkan kerap terjadi dalam waktu yang lama.

Hipertensi

Hipertensi

Pengertian Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah di 130/80 mmHg atau lebih. Jika tidak segera ditangani, hipertensi bisa menyebabkan munculnya penyakit-penyakit serius yang mengancam nyawa, seperti gagal jantung, penyakit ginjal, dan stroke.

Tekanan darah dibagi menjadi tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan saat jantung berelaksasi sebelum kembali memompa darah.

Hipertensi terjadi ketika tekanan sistolik berada di atas 130 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Tekanan darah yang melebihi angka tersebut merupakan kondisi berbahaya dan harus segera ditangani.

Penyebab dan Gejala Hipertensi

Hipertensi terbagi ke dalam hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer tidak diketahui penyebabnya dengan pasti, sedangkan hipertensi sekunder dapat terjadi antara lain akibat penyakit ginjal, sleep apnea, dan kecanduan alkohol.

Hipertensi memiliki istilah silent killer atau penyakit yang membunuh secara diam-diam. Hal ini karena penderita hipertensi umumnya tidak mengalami gejala apa pun, sampai tekanan darahnya sudah terlalu tinggi dan mengancam nyawa. Oleh sebab itu, penting untuk rutin memeriksakan tekanan darah, baik secara mandiri atau dengan datang ke dokter.

Pengobatan dan Pencegahan Hipertensi

Hipertensi bisa diatasi dengan menjalani pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, menghentikan kebiasaan merokok, dan mengurangi konsumsi minuman berkafein. Namun, jika tekanan darah sudah cukup tinggi, pasien juga diharuskan mengonsumsi obat penurun tekanan darah.

Untuk mencegah tekanan darah tinggi, lakukan olahraga secara rutin dan jaga berat badan agar tetap ideal. Periksakan juga tekanan darah secara berkala ke dokter, terlebih jika Anda memiliki faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.

Apa sih Darah Rendah itu ?

Apa sih Darah Rendah itu ?

Darah rendah atau hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di bawah 90/60 mmHg. Hipotensi umumnya tidak berbahaya dan dapat dialami oleh siapa saja. Namun pada beberapa orang, hipotensi dapat menyebabkan pusing dan lemas.

Tekanan darah normal berkisar antara 90/60 mmHg dan 120/80 mmHg. Ketika tekanan darah berada di bawah rentang tersebut, maka seseorang dapat dikatakan menderita hipotensi. Meskipun umumnya tidak berbahaya, hipotensi dapat menjadi gejala dari suatu penyakit yang sedang diderita.

 

Penyebab Hipotensi

Tekanan darah dapat berubah sepanjang waktu, tergantung kondisi dan aktivitas yang dilakukan tiap orang. Kondisi ini merupakan hal yang normal, karena tekanan darah dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pertambahan usia dan keturunan. Tidak hanya pada orang dewasa, tekanan darah rendah juga bisa terjadi pada anak-anak.

Selain itu, hipotensi juga bisa disebabkan oleh kondisi atau penyakit tertentu, seperti:

  • Kehamilan
    Tekanan darah selama masa kehamilan akan menurun seiring berkembangnya sirkulasi darah dalam tubuh ibu hamil.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu
    Beberapa jenis obat dapat menimbulkan efek menurunnya tekanan darah, di antaranya adalah furosemide, atenolol, propranolol, levodopa, dan sildenafil.
  • Ketidakseimbangan hormon
    Beberapa penyakit, seperti diabetes dan penyakit tiroid, menyebabkan penurunan kadar hormon dalam darah, dan berdampak pada menurunnya tekanan darah.
  • Dehidrasi
    Ketika kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi, volume darah juga dapat berkurang. Kondisi ini dapat memicu penurunan tekanan darah.
  • Infeksi
    Ketika infeksi yang terjadi dalam suatu jaringan mulai memasuki aliran darah (sepsis), tekanan darah dapat
  • Penyakit jantung
    Terganggunya fungsi jantung menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah dengan baik ke seluruh tubuh, sehingga tekanan darah akan menurun. Salah satu penyakit jantung yang bisa menyebabkan hipotensi adalah syok kardiogenik.
  • Kekurangan nutrisi
    Kekurangan vitamin B12 dan asam folat dapat menyebabkan anemia dan berakhir pada penurunan tekanan darah.
  • Perdarahan
    Kehilangan darah dalam jumlah besar akibat cedera dapat menurunkan volume dan aliran darah ke berbagai jaringan tubuh, sehingga tekanan darah menurun drastis.
  • Reaksi alergi parah
    Beberapa pemicu alergi (alergen) dapat menimbulkan reaksi alergi parah (anafilaksis) yang berdampak pada menurunnya tekanan darah.

Selain karena beberapa faktor penyebab di atas, hipotensi dapat terjadi ketika mengubah posisi dari duduk atau berbaring ke posisi berdiri. Jenis hipotensi ini dikenal dengan hipotensi ortostatik atau hipotensi postural.

Hipotensi juga dapat terjadi saat seseorang berdiri terlalu lama hingga darah menumpuk di bagian tungkai. Kondisi ini disebut juga neural mediated hypotension (NMH). Sebagian besar penderita hipotensi jenis ini adalah anak-anak.

Gejala Hipotensi

Meskipun tidak selalu menimbulkan gejala, kondisi hipotensi atau darah rendah  berisiko menimbulkan gejala sebagai berikut:

  • Pusing
  • Mual dan muntah
  • Lemas
  • Pandangan buram
  • Konsentrasi berkurang
  • Tubuh terasa tidak stabil
  • Pingsan
  • Sesak napas

Kapan Harus ke Dokter

Periksakanlah diri ke dokter jika Anda mengalami gejala hipotensi. Bila setelah diperiksa tekanan darah Anda di bawah normal, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari tahu penyebab hipotensi tersebut.

Segera hubungi dokter atau kunjungi rumah sakit terdekat jika mengalami gejala syok, seperti jantung berdebar, keringat dingin, hingga sesak napas. Tekanan darah yang sangat rendah hingga menimbulkan syok perlu segera ditangani karena dapat membahayakan nyawa.

Diagnosis Hipotensi

Hipotensi atau darah rendah dapat diketahui melalui pemeriksaan tekanan darah. Dokter akan menggunakan alat pengukur tekanan darah atau sfigmomanometer untuk mengukur tekanan darah.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan angka yang cukup rendah disertai adanya gejala tertentu, maka dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi kemungkinan kondisi atau penyakit tertentu yang menyebabkan hipotensi. Pemeriksaan yang akan dilakukan dokter meliputi:

  • Tes darah
    Pemeriksaan ini dilakukan dokter untuk memeriksa kadar gula dan kadar hormon di dalam darah pasien.
  • Elektrokardiografi (EKG)
    Elektrokardiografi bertujuan untuk mendeteksi struktur jantung yang tidak normal dan detak jantung yang tidak beraturan.
  • Ekokardiogram
    Tes ini dilakukan untuk memeriksa fungsi jantung dan mendeteksi kelainan yang terjadi pada jantung.
  • Uji latih jantung (stress test)
    Tes ini dilakukan untuk menilai fungsi jantung saat melakukan aktivitas, dengan cara membuat jantung bekerja lebih keras, misalnya dengan meminta pasien berjalan atau berlari di atas treadmill atau memberikan obat tertentu yang meningkatkan kerja jantung.
  • Manuver valsalva
    Tes ini dilakukan dengan meminta pasien mengambil napas panjang, kemudian menutup hidung dan membuang napas melalui mulut. Tes ini bertujuan untuk memeriksa kondisi saraf dalam sistem pernapasan.
  • Tilt table test
    Tes ini dilakukan terhadap pasien hipotensi ortostatik untuk melihat perbedaan tekanan darah saat berbaring dan berdiri. Dalam pemeriksaan ini, pasien akan dibaringkan di atas meja yang bisa digerakkan ke posisi tegak dan melintang dengan kecepatan tertentu.

Pengobatan Hipotensi

Jika Anda mengalami hipotensi yang disertai gejala, tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah duduk atau berbaring. Posisikan kaki lebih tinggi dari jantung dan pertahankan posisi tersebut selama beberapa saat. Jika gejala tidak juga mereda, maka perlu dilakukan penanganan oleh dokter.

Pengobatan hipotensi ditentukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan tekanan darah, meredakan gejala yang muncul, dan mengobati kondisi yang menyebabkan hipotensi.

Penanganan hipotensi yang utama adalah perubahan pola makan dan gaya hidup, seperti:

  • Memperbanyak konsumsi makanan dengan kadar garam tinggi, karena garam dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Memperbanyak konsumsi cairan, karena cairan dapat meningkatkan volume darah dan membantu mencegah dehidrasi.
  • Berolahraga secara teratur untuk meningkatkan tekanan darah.
  • Menggunakan stoking khusus pada tungkai (stoking kompresi) untuk memperlancar aliran darah.

Jika hipotensi disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu, dokter akan mengurangi dosisnya, atau mengganti jenis obat bila perlu.

Hipotensi yang disertai gejala syok merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan darurat. Dokter akan memberikan cairan infus, obat, hingga transfusi darah untuk meningkatkan tekanan darah, sehingga mencegah kerusakan fungsi organ.

Setelah menstabilkan tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, dan pernapasan pasien, dokter akan memberikan pengobatan untuk mengatasi penyebabnya. Misalnya, memberikan obat antibiotik untuk mengatasi infeksi yang sudah masuk ke dalam darah.

Pencegahan Hipotensi

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi gejala hipotensi, yaitu:

  • Menghindari konsumsi minuman berkafein pada malam hari dan membatasi konsumsi alkohol.
  • Makan dalam porsi kecil namun sering, dan tidak langsung berdiri setelah makan.
  • Memposisikan kepala lebih tinggi ketika tidur (sekitar 15 cm).
  • Berdiri secara perlahan dari posisi duduk atau berbaring.
  • Menghindari terlalu lama berdiri atau duduk, dan menghindari duduk bersila.
  • Tidak membungkuk atau mengubah posisi tubuh secara tiba-tiba.
  • Menghindari mengangkat beban berat.

Komplikasi Hipotensi

Pusing dan lemas yang disebabkan hipotensi berisiko menimbulkan cedera pada penderita akibat terjatuh. Sedangkan hipotensi berat hingga menimbulkan syok, dapat membuat tubuh kekurangan oksigen. Kondisi ini berdampak pada terganggungnya fungsi berbagai organ, seperti otak dan jantung.

Salah Satu Untuk Menghindari Insomnia yaitu Jangan Terlalu Lama Tidur Siang !!!

Salah Satu Untuk Menghindari Insomnia yaitu Jangan Terlalu Lama Tidur Siang !!!

Pengobatan Insomnia

Langkah pertama untuk mengobati insomnia adalah mencari tahu dan mengatasi akar penyebabnya. Bila pasien tetap mengalami insomnia meski penyebabnya telah diatasi, dokter akan menyarankan pasien menjalani terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I). Pasien juga bisa diterapi dengan obat-obatan, atau kombinasi antara obat dan CBT-I.

CBT-I bertujuan membantu pasien insomnia mengubah pikiran dan perilaku negatif yang membuat pasien susah tidur. Terapi ini adalah pilihan utama untuk mengobati pasien insomnia, karena lebih efektif dibanding obat-obatan. Sejumlah metode dalam CBT-I antara lain:

  • Pembatasan waktu tidur. Pasien akan diminta menghindari tidur siang, agar waktu tidur di malam hari dapat meningkat secara bertahap.
  • Teknik relaksasi. Pasien akan diajari cara mengontrol napas, guna mengurangi kecemasan tidak bisa tidur.
  • Terapi kontrol stimulus. Pasien akan dilatih untuk hanya menggunakan kamar tidur untuk tidur atau berhubungan seks. Pasien juga dianjurkan meninggalkan kamar tidur bila tidak bisa tidur dalam 20 menit, dan hanya kembali bila sudah mengantuk.
  • Paradoxical intention. Terapi ini bertujuan mengurangi rasa cemas dan khawatir tidak bisa tidur, justru dengan cara tetap terbangun di tempat tidur dan tidak berharap untuk tertidur.
  • Fototerapi. Fototerapi bertujuan menormalkan jam tidur, pada pasien yang tidur terlalu cepat di malam hari, dan bangun terlalu dini di pagi hari. Dalam fototerapi, pasien akan disinari dengan sinar UV selama 30-40 menit setelah bangun tidur.

Metode lain untuk mengatasi insomnia adalah dengan obat tidur. Umumnya dokter tidak menyarankan penggunaan obat tidur lebih dari beberapa minggu. Beberapa jenis obat yang umumnya diresepkan dokter untuk menangani insomnia, antara lain zolpidem.

Perlu diketahui, obat tidur dapat menimbulkan efek samping pusing, serta bisa meningkatkan risiko pingsan. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat tidur untuk insomnia.

Pencegahan Insomnia

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah insomnia, di antaranya adalah dengan menjaga konsistensi waktu tidur dan bangun tidur setiap hari, termasuk di hari libur. Langkah pencegahan lainnya adalah dengan menerapkan sleep hygiene. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan:

  • Hindari banyak makan dan minum sebelum tidur.
  • Hindari atau batasi konsumsi minuman beralkohol dan berkafein.
  • Usahakan aktif di siang hari agar terhindar dari tidur siang.
  • Jangan merokok.
  • Jaga kenyamanan kamar tidur, dan usahakan hanya masuk ke dalamnya bila ingin tidur.
  • Periksa obat-obatan yang dikonsumsi, apakah kandungannya menyebabkan sulit tidur.
Orang Yang Mengalami Susah Tidur (Insomnia) itu Mudah Stress dan Emosi

Orang Yang Mengalami Susah Tidur (Insomnia) itu Mudah Stress dan Emosi

Gejala Insomnia

Gejala insomnia cukup beragam, dan dapat berlangsung dalam hitungan bulan bahkan tahun. Pada umumnya, penderita insomnia mengalami sulit tidur atau sering terbangun di malam hari, bangun terlalu dini di pagi hari, dan tidur yang terasa tidak nyenyak atau tidak cukup. Sejumlah gejala tersebut dapat memicu gejala lain, seperti mengantuk atau lelah di siang hari, mudah marah dan depresi, serta sulit fokus dalam beraktivitas.

Insomnia dapat berlangsung singkat (akut), atau terjadi dalam jangka panjang (kronis). Insomnia akut berlangsung satu malam hingga beberapa minggu. Sedangkan insomnia kronis terjadi sedikitnya 3 malam dalam sepekan, dan berlangsung dalam hitungan bulan.

Komplikasi Insomnia

Kualitas dan kuantitas tidur yang cukup, sangat penting bagi kesehatan fisik serta mental. Oleh karena itu, kualitas hidup penderita insomnia umumnya menurun, disebabkan oleh kurangnya konsentrasi saat beraktivitas. Risiko kecelakaan juga meningkat, akibat kurang fokus dalam berkendara. Selain itu, insomnia juga dapat memengaruhi daya ingat dan gairah seks penderitanya.

Komplikasi lain yang dapat terjadi pada penderita insomnia antara lain:

  • Gangguan fisik – asma, berat badan berlebih, diabetes, kejang, penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.
  • Gangguan mental – depresi, frustrasi, dan kecemasan.

Penyebab Insomnia

Insomnia dapat disebabkan oleh banyak hal. Salah satu penyebab insomnia adalah hal yang memicu stress. Misalnya karena terlalu memikirkan pekerjaan, kondisi kesehatan, atau keuangan. Stres juga bisa disebabkan oleh peristiwa duka, seperti sakit atau kematian yang menimpa pasangan maupun keluarga dekat.

Hal lain yang dapat menyebabkan insomnia meliputi:

  • Gangguan psikologi, antara lain:
    • Gangguan kecemasan, seperti panik dan gangguan stres pasca trauma (PTSD).
    • Gangguan psikosis, misalnya skizofrenia.
    • Gangguan suasana hati, seperti depresi atau gangguan bipolar.
  • Gangguan kesehatan, di antaranya:
    • Gangguan hormon, misalnya hipertiroidisme.
    • Gangguan jantung, seperti gagal jantung dan angina.
    • Gangguan otot dan sendi, misalnya radang sendi (artritis).
    • Gangguan pada organ kemih, seperti pembesaran prostat atau inkontinensia urine.
    • Gangguan pencernaan, misalnya GERD
    • Gangguan pernapasan, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis.
    • Gangguan saraf, seperti penyakit Parkinson atau Alzheimer.
    • Gangguan tidur, seperti restless leg syndromesleep apnea, dan narkolepsi.
    • Diabetes.
    • Kanker.
  • Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, menyalahgunakan NAPZA, dan mengonsumsi minuman beralkohol atau berkafein secara berlebihan.
  • Obat-obatan, meliputi:
    • Antidepresan, seperti fluoxetine dan
    • Obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen.
    • Obat asma, seperti salbutamolsalmeterol, dan teofilin.
    • Obat anti kejang.
    • Obat stimulan, misalnya methylphenidate untuk menangani gangguan hiperaktif (ADHD) atau modafinil untuk menangani narkolepsi.
    • Obat tekanan darah tinggi, seperti penghambat beta.
  • Faktor lingkunganseperti suara bising, lampu yang terlalu terang, serta suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas, sehingga dapat mengganggu tidur.

Faktor Risiko Insomnia

Walaupun tiap orang dapat mengalami insomnia, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini. Di antaranya adalah:

  • Berjenis kelamin wanita. Perubahan hormon selama menstruasi dan dalam masa menopause dapat mengganggu pola tidur. Selain itu, insomnia juga dapat terjadi pada masa kehamilan.
  • Usia di atas 60 tahun. Kondisi kesehatan dan pola tidur berubah seiring usia, dan meningkatkan risiko insomnia.
  • Kondisi medis. Risiko insomnia semakin besar pada seseorang dengan gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental.
  • Perubahan jadwal aktivitas. Faktor ini dapat mengganggu pola tidur, misalnya karena pergantian jadwal dalam bekerja.
  • Stres. Stres ringan dapat menyebabkan insomnia sementara. Semakin berat dan lama stres yang dirasakan, risiko terjadinya insomnia kronis akan makin tinggi.
INSOMNIA ???

INSOMNIA ???

INSOMNIA

Insomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan penderitanya sulit tidur, atau tidak cukup tidur, meskipun terdapat cukup waktu untuk melakukannya. Gangguan tersebut menyebabkan kondisi penderita tidak prima untuk melakukan aktivitas keesokan harinya.

Kualitas dan kuantitas tidur memengaruhi kualitas hidup, serta kesehatan seseorang secara keseluruhan. Tidur yang tidak cukup akan menimbulkan gangguan fisik dan mental. Pada umumnya, butuh 8 jam tidur dalam sehari untuk menjaga kondisi tubuh tetap fit.

Terdapat dua tipe insomnia yaitu insomnia primer dan insomnia sekunder. Insomnia primer adalah insomnia yang tidak terkait dengan kondisi medis lain. Sedangkan insomnia sekunder adalah insomnia yang disebabkan oleh gangguan kesehatan lain, misalnya radang sendi, asma, depresi, kanker, atau refluks asam lambung (GERD). Insomnia sekunder juga dapat disebabkan oleh konsumsi obat-obatan atau alkohol.

Gejala Insomnia

Insomnia ditandai dengan sulit tidur atau tidur yang tidak nyenyak. Akibatnya, penderita insomnia dapat mudah marah dan depresi. Gejala itu dapat memicu gejala lain, seperti:

  • Mengantuk pada siang hari.
  • Mudah lelah saat beraktivitas.
  • Sulit fokus dalam beraktivitas.

Sulit tidur dapat membuat penderita insomnia kurang konsentrasi, sehingga berisiko mengalami kecelakaan. Insomnia juga dapat menurunkan daya ingat dan gairah seks, serta menimbulkan gangguan fisik dan mental.

Penyebab dan Faktor Risiko Insomnia

Insomnia dapat dialami oleh siapa saja, tetapi insomnia lebih berisiko terjadi pada orang lanjut usia, dan seseorang yang memiliki gangguan kesehatan. Pada umumnya, insomnia disebabkan oleh beberapa hal seperti:

  • Stres
  • Depresi
  • Gaya hidup tidak sehat
  • Pengaruh obat-obatan tertentu.

Pengobatan Insomnia

Ada mitos yang menyebutkan bahwa insomnia adalah penyakit yang ringan dan tidak perlu diobati. Padahal, sebagian kasus insomnia tergolong serius dan perlu mendapatkan penanganan dokter.

Insomnia bisa diatasi dengan beberapa cara, misalnya penggunaan obat-obatan, suplemen melatonin, terapi perilaku kognitif, atau kombinasi ketiganya. Pengobatan yang dilakukan akan disesuaikan dengan kondisi tiap pasien. Jika diperlukan, dokter akan memberi pasien obat tidur untuk beberapa minggu. Obat ini tidak dianjurkan untuk digunakan dalam jangka panjang karena berisiko menimbulkan efek samping.

Insomnia bisa dicegah dengan cara:

  • Hindari banyak makan dan minum sebelum tidur.
  • Hindari atau batasi konsumsi minuman beralkohol dan berkafein.
  • Usahakan aktif di siang hari agar terhindar dari tidur siang.
Bahayanya Kebiasaan Habis Makan Langsung Tidur

Bahayanya Kebiasaan Habis Makan Langsung Tidur

Beberapa Dampak Kebiasaan Tidur Setelah Makan

Banyak orang yang terbiasa langsung tidur setelah makan. Jika Anda memiliki kebiasaan tersebut, sebaiknya segera hentikan. Pasalnya, kebiasaan tidur setelah makan dapat meningkatkan risiko terjadinya beberapa penyakit.

Setelah makan, tubuh akan mencerna makanan yang dikonsumsi agar nutrisinya dapat diserap. Saat proses pencernaan berlangsung, tubuh akan melepaskan hormon-hormon tertentu agar pencernaan berjalan lancar, dan ini merupakan hal yang normal terjadi.

Akan tetapi, pelepasan hormon tersebut kadang dapat menimbulkan rasa kantuk, sehingga muncul dorongan untuk tidur setelah makan. Jika hanya sesekali, langsung tidur setelah makan sebenarnya tidak berdampak buruk bagi kesehatan. Namun, jika ini dibiasakan, dapat muncul beragam gangguan kesehatan.

Beberapa Penyebab Munculnya Rasa Kantuk Setelah Makan

Rasa kantuk yang muncul secara tiba-tiba setelah makan bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya:

Makanan yang dikonsumsi

Beberapa jenis makanan bisa membuat Anda lebih mudah mengantuk. Salah satunya adalah makanan yang mengandung banyak asam amino triptofan, seperti bayam, kedelai, keju, tahu, dan ikan.

Selain triptofan, makanan yang tinggi gula, karbohidrat, dan lemak juga dapat menyebabkan tubuh lebih mudah mengantuk setelah makan.

Suatu riset menunjukkan bahwa kandungan nutrisi tersebut dapat meningkatkan produksi hormon serotonin dan melatonin di dalam tubuh. Hormon-hormon ini dapat menimbulkan rasa kantuk, sehingga Anda akan terdorong untuk tidur setelah makan.

Berkurangnya aliran darah ke otak

Saat lambung mencerna makanan, tubuh akan mengalirkan lebih banyak darah ke organ tersebut. Saat hal ini terjadi, aliran darah ke otak mungkin akan jadi sedikit berkurang, sehingga muncullah rasa kantuk.

Kemungkinan penyakit tertentu

Munculnya rasa ingin tidur setelah makan juga bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan. Beberapa kondisi yang dapat membuat Anda mengantuk tiap kali merasa kenyang adalah:

Apakah Tidur Setelah Makan Berbahaya Bagi Kesehatan?

Seperti yang telah dijelaskan di awal, langsung tidur setelah makan tidak menyebabkan gangguan kesehatan jika hal ini tidak dibiasakan.

Akan tetapi, jika sudah menjadi kebiasaan, tidur setelah makan berisiko menyebabkan beberapa masalah kesehatan berikut ini:

1. Obesitas

Sebuah penelitian menyatakan bahwa orang yang sering tidur setelah makan akan mengalami peningkatan berat badan yang cukup signifikan.

Hal ini diduga akibat lambatnya metabolisme tubuh dan kurangnya aktivitas untuk membakar kalori dari makanan yang dikonsumsi. Jika kebiasaan ini terus dilakukan, lama-kelamaan bisa menyebabkan obesitas.

2. Meningkatkan risiko penyakit asam lambung

Tidur atau berbaring setelah makan tidak baik untuk kesehatan lambung, terutama setelah makan dalam porsi banyak sekaligus.

Langsung tidur setelah makan kenyang akan menyebabkan tekanan di dalam lambung meningkat, sehingga makanan dan cairan lambung dapat naik kembali ke kerongkongan. Jika ini terjadi terus-menerus, dapat menimbulkan penyakit asam lambung (GERD).

3. Meningkatkan risiko insomnia

Tidur setelah makan di siang atau sore hari bisa membuat Anda sulit tidur di malam hari. Jika terus dibiasakan, lambat laun Anda bisa terkena gangguan tidur atau insomnia.

Tips Mencegah Tidur Setelah Makan

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi rasa kantuk agar tidak mudah tidur setelah makan, yaitu:

  • Konsumsilah makanan sehat yang bergizi seimbang. Kurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung gula, lemak, dan karbohidrat.
  • Kurangi porsi makan, namun tingkatkan frekuensinya agar lebih sering.
  • Perbanyak minum air putih.
  • Jangan berbaring setelah makan.
  • Rutin berolahraga, minimal 20-30 menit per hari. Lakukan aktivitas fisik ringan setiap habis makan, agar tidak mengantuk.
  • Tidur yang cukup, yaitu 7-9 jam sehari.
  • Hindari konsumsi alkohol dan jangan merokok.

Apabila Anda masih juga mengantuk dan ingin langsung tidur setelah makan, cobalah berkonsultasi dengan dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan. Hal ini untuk memastikan bahwa kebiasaan tidur setelah makan yang Anda alami bukan disebabkan oleh suatu penyakit.

Apakah Berbeda Antara Penyakit Asam Lambung dan Maag ?

Apakah Berbeda Antara Penyakit Asam Lambung dan Maag ?

Ketahui Perbedaan antara Asam Lambung dan Maag

Asam lambung dan maag, meski memiliki gejala yang sama, tetapi ini adalah dua kondisi yang berbeda. Penyakit asam lambung adalah kondisi ketika asam yang diproduksi oleh lambung naik ke kerongkongan dan menyebabkan rasa tidak nyaman seperti dada yang sakit sampai mulas.

Maag sendiri adalah ketika volume lapisan lendir tebal yang melindungi lambung mengalami penurunan, sehingga asam pencernaan menggerogoti jaringan yang melapisi perut. Dua kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi parah tanpa perawatan yang tepat.

Maag Vs Penyakit Asam Lambung

Sakit maag terjadi ketika lapisan perut mengalami perlukaan dan kondisi ini bisa diperburuk dengan asam lambung. Jadi, bisa dibilang penyebab utamanya bukanlah asam lambung. Kondisi berbeda dengan penyakit asam lambung yang memang disebabkan karena asam lambung itu sendiri. Ketika asam lambung keluar dari perut dan masuk ke kerongkongan.

Tadi sudah disampaikan kalau kedua kondisi ini memiliki gejala yang sama, tetapi ada perbedaan yang signifikan. Maag sering disertai dengan gejala seperti:

  1.  Sensasi terbakar di usus, di area antara pusar dan tulang dada.
  2.  Nyeri atau tidak nyaman dua hingga tiga jam setelah makan.
  3.  Rasa sakit yang membangunkan kamu di malam hari.
  4.  Rasa sakit yang berkurang setelah makan, minum, atau mengonsumsi obat maag.
  5.  Darah di kotoran atau muntah.

Sedangkan penyakit asam lambung, biasanya ditandai oleh rasa asam di belakang mulut, batuk kering, sakit tenggorokan, kesulitan menelan, gejala, seperti asma, mulas yang meningkat sebagai respons terhadap beberapa makanan “pemicu”, dan gejala yang memburuk saat kamu berbaring atau membungkuk.

Sebaik-baiknya untuk mengetahui pasti apakah kamu mengidap asam lambung atau maag periksakan diri ke dokter. Umumnya, ketika ada kecurigaan maag, kamu akan direkomendasikan untuk melakukan endoskopi.

Jika kecurigaan lebih mengarah ke asam lambung, dokter akan melakukan tes terapeutik yang melibatkan mengambil obat pereduksi asam untuk melihat apakah itu mengendalikan gejala yang kamu alami.

Tergantung dari seberapa parah gejala yang kamu alami, dokter juga akan melakukan beberapa tes tambahan seperti:

  1.  Tes Darah

Ini akan menunjukkan apakah kamu telah terpapar H. pylori.

  1.  Studi Barium

Melalui tes ini, ahli radiologi akan mengambil sinar-X dari kerongkongan, lambung, dan usus untuk mencari tahu apakah kamu memiliki bisul atau masalah struktural seperti obstruksi yang menjadi penyebab gejala.

  1.  Endoskopi

Tes ini dilakukan saat kamu dibius di mana dokter akan memasukkan tabung tipis dan fleksibel dengan kamera ke tenggorokan untuk melihat bagian dalam kerongkongan dan perut. Kamera memungkinkan dokter untuk melihat borok atau masalah lain, seperti jaringan parut pada kerongkongan yang bisa disebabkan oleh asam lambung. Diagnosis yang akurat akan membantu kamu menentukan langkah perawatan yang tepat.

Tidak bisa dipungkiri pola hidup dapat meringankan gejala jika kamu mengidap penyakit asam lambung ataupun maag. Alkohol dan makanan pedas dapat memperlambat proses penyembuhan. Bahkan, stres juga dapat memengaruhi proses penyembuhan untuk kedua penyakit ini.

Habis Makan Langsung Tidur Dapat Menyebabkan Asam Lambung Naik

Habis Makan Langsung Tidur Dapat Menyebabkan Asam Lambung Naik

Pengertian Penyakit Asam Lambung

Penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah munculnya rasa terbakar di dada akibat asam lambung naik ke kerongkongan. Gejala penyakit asam lambung muncul minimal 2 kali dalam seminggu.

Asam lambung naik atau penyakit asam lambung bisa dialami oleh orang dewasa maupun anak-anak. Gejala penyakit ini sering diduga sebagai serangan jantung atau penyakit jantung koroner, karena gejalanya yang hampir mirip dengan nyeri dada. Walaupun tidak mematikan seperti serangan jantung, penyakit asam lambung perlu ditangani agar tidak menimbulkan komplikasi.

Gejala Penyakit Asam Lambung

Gejala utama dari asam lambung naik adalah rasa seperti terbakar di dada (heartburn), yang bertambah parah setelah makan atau saat berbaring. Gejala ini dapat disertai dengan keluhan gangguan pencernaan lainnya, seperti sering bersendawa, mual dan muntah, serta maag dan sesak napas. Penyakit asam lambung juga dapat menimbulkan keluhan mulut terasa asam.

Penyebab Penyakit Asam Lambung

Asam lambung naik ke kerongkongan (refluks asam lambung) terjadi ketika otot kerongkongan bagian bawah (otot LES) melemah. Otot LES ini seharusnya berkontraksi dan menutup saluran ke kerongkongan setelah makanan turun ke lambung. Bila otot ini lemah, kerongkongan akan tetap terbuka dan asam lambung akan naik kembali ke kerongkongan.

Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada orang lanjut usia (lansia), orang dengan obesitas, perokok, orang yang sering berbaring atau tidur setelah makan, dan wanita hamil.

Pengobatan Penyakit Asam Lambung 

GERD dapat diatasi dengan mengubah perilaku sehari-hari, seperti menurunkan berat badan, tidak langsung berbaring setelah makan, dan berhenti merokok.

Dokter gastroenterologi juga dapat memberikan obat-obatan untuk mengatasi penyakit asam lambung dan meringankan maag akibat asam lambung. Obat yang diberikan adalah obat yang dapat menetralkan asam lambung, menurunkan produksi asam lambung, dan obat yang mempercepat pengosongan lambung. Jika cara tersebut belum dapat mengatasi penyakit asam lambung, operasi dapat dilakukan.

Pengobatan asam lambung cukup bervariasi mulai dari perubahan gaya hidup hingga langkah operasi, yang memerlukan biaya tidak sedikit. Oleh karena itu, memiliki asuransi kesehatan bisa menjadi solusi praktis untuk menghemat kemungkinan biaya pengobatan kondisi saat ini, maupun nanti.

Komplikasi Penyakit Asam Lambung 

Penanganan penyakit asam lambung yang tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berupa peradangan pada saluran kerongkongan atau esofagus. Peradangan tersebut dapat menyebabkan munculnya luka hingga jaringan parut di kerongkongan, sehingga penderita jadi sulit menelan.

Kondisi  ini juga dapat memicu terjadinya esofagus Barrett, yaitu penyakit yang berisiko menimbulkan kanker esofagus.

Maag Dapat Berujung Kanker ?

Maag Dapat Berujung Kanker ?

Komplikasi Sakit Maag

Berikut ini 3 komplikasi yang berkaitan dengan penyakit maag:

Esofagus barret

Esofagus barret disebabkan oleh paparan asam lambung di kerongkongan secara terus-menerus, yang menyebabkan perubahan pada sel-sel di lapisan bagian bawah kerongkongan menjadi sel kanker.

Stenosis pilorus

Komplikasi ini terjadi ketika asam lambung menyebabkan iritasi jangka panjang pada lapisan sistem pencernaan. Piloris adalah jalur antara lambung dan usus kecil. Pada kasus stenosis pilorik, pilorus menjadi parut dan menyempit. Akibatnya, makanan tidak bisa dicerna dengan baik.

Penyempitan Esofagus

Penyempitan esofagus terjadi bila seseorang mengalami sakit maag berulang akibat refluks asam. Gejala yang muncul biasanya berupa sulit menelan dan nyeri pada bagian dada.

Pengobatan Sakit Maag

Pengobatan untuk sakit maag tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan gejala. Bila gejalanya ringan, perubahan gaya hidup mungkin sudah bisa meredakannya. Berikut ini gaya hidup untuk mengatasi sakit maag:

  • Kurangi makanan berlemak dan pedas.
  • Kurangi konsumsi minuman beralkohol dan berkafein.
  • Tidur setidaknya selama 7 jam setiap malam juga bisa membantu meredakan sakit maag ringan.
  • Berolahraga secara teratur dan berhenti merokok.

Dalam kasus sakit maag yang parah dan sering, dokter bisa meresepkan obat, seperti obat golongan antasida, antagonis reseptor H-2, dan inhibitor pompa proton (PPI).

Pencegahan Sakit Maag

Cara terbaik mencegah sakit maag adalah dengan menghindari faktor-faktor pemicunya. Berikut ini beberapa cara mencegah sakit maag:

  • Makanlah dalam porsi kecil dan secara perlahan.
  • Hindari makanan yang mengandung banyak asam.
  • Bila sakit maag dipicu oleh stres, carilah metode baru untuk mengelola stres seperti bermeditasi.
  • Jangan berolahraga dengan perut penuh.
  • Kurangi konsumsi alkohol.
  • Jangan berbaring tepat setelah makan.