Penanganan Kelahiran Prematur

Langkah penanganan terhadap kelahiran prematur ditentukan berdasarkan kondisi kehamilan dan kesehatan pasien secara keseluruhan. Beberapa tindakan penanganan awal terhadap kelahiran prematur, yaitu:

  • Pasien dianjurkan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit agar dokter dapat memantau kondisi ibu hamil dan janin dalam kandungan. Dokter atau perawat akan memasang selang infus untuk menyalurkan cairan dan obat.
  • Obat. Beberapa jenis obat yang akan diberikan dokter, meliputi:
    • Obat tokolitik, yaitu jenis obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghentikan kontraksi, seperti terbutalin dan isoxsuprine.
    • Kortikosteroid, yaitu obat yang digunakan untuk mempercepat perkembangan organ paru-paru janin.
    • Magnesium sulfat, untuk mengurangi risiko gangguan atau kerusakan pada otak.
    • Antibiotik, jika kelahiran prematur disebabkan oleh infeksi.
  • Prosedur pengikatan leher rahim, yaitu prosedur yang dilakukan dengan menjahit bagian pembukaan serviks. Prosedur ini dilakukan pada ibu hamil dengan kondisi serviks lemah dan berisiko terbuka selama kehamilan.
  • Persalinan. Jika kelahiran prematur tidak dapat ditunda dengan penanganan awal, atau jika janin serta ibu dalam kondisi yang mengancam nyawa, maka proses persalinan akan dimulai. Jika memungkinkan, persalinan dapat dilakukan secara normal. Namun, bayi prematur memiliki risiko yang lebih tinggi untuk sungsang. Jika seperti ini dokter kandungan mungkin menyarankan kepada ibu hamil untuk melahirkan secara operasi Caesar.

Ciri-Ciri dan Penanganan Bayi Prematur

Secara fisik, bayi yang lahir prematur akan terlihat berbeda dari bayi yang lahir normal. Tubuh bayi prematur berukuran lebih kecil dengan ukuran kepala yang sedikit lebih besar. Ciri lain bayi prematur adalah:

  • Diselimuti bulu halus yang tumbuh lebat di seluruh tubuh.
  • Bentuk mata tidak sebulat bayi normal karena kekurangan lemak tubuh.
  • Suhu tubuh yang rendah.
  • Sulit bernapas karena perkembangan paru yang belum sempurna.
  • Belum bisa mengisap dan menelan dengan sempurna, sehingga sulit menerima asupan makanan.

Usia kehamilan akan menentukan kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan. Berikut ini adalah gangguan kesehatan yang dapat terjadi:

  • Janin yang lahir sebelum usia kehamilan 23 minggu, kemungkinan tidak dapat bertahan hidup di luar rahim sang ibu.
  • Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 25 minggu, berisiko tinggi menderita gangguan yang bersifat jangka panjang, yaitu gangguan saraf dan kesulitan belajar.
  • Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 28 minggu, berisiko tinggi menderita komplikasi yang tidak permanen, seperti gangguan pernapasan.
  • Bayi yang lahir antara usia kehamilan 28-32 minggu, kondisi kesehatannya akan membaik secara bertahap. Setelah usia 32 minggu, risiko bayi mengalami gangguan semakin rendah.

Setelah dilahirkan, dokter akan melakukan penanganan khusus terhadap bayi prematur. Bayi prematur akan menjalani perawatan intensif di ruang NICU (neonatal intensive care unit) hingga organ dalam berkembang sempurna dan kondisi bayi stabil tanpa ditopang oleh perawatan di rumah sakit. Bayi yang terlahir prematur dengan masalah pernapasan juga umumnya perlu mendapatkan resusitasi. Bentuk penanganan khusus yang dilakukan dokter anak, meliputi:

  • Memasukkan bayi ke dalam inkubator agar suhu tubuh bayi tetap hangat.
  • Memasang sensor di tubuh bayi untuk memantau sistem pernapasan, detak jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh bayi.
  • Memberi ASI atau susu formula melalui selang makan yang dipasang melalui hidung bayi.
  • Bayi yang lahir dengan penyakit kuning akan menjalani terapi sinar untuk mengurangi warna kuning tubuh.
  • Memberikan transfusi darah untuk meningkatkan jumlah sel darah bayi, jika diperlukan. Hal ini dilakukan karena proses pembentukan sel darah merah belum sempurna.
  • Melakukan pemeriksaan jantung bayi secara berkala dengan USG jantung atau ekokardiografi.
  • Pemeriksaan USG juga dilakukan untuk memeriksa kemungkinan adanya perdarahan di otak dan organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal.
  • Pemeriksaan mata akan dilakukan untuk mendeteksi kelainan yang dapat menggangu penglihatan.